RENUNGAN HATI: BILA HARI INI…

Mulailah dari yang kita sanggup:

  1. Bila hari ini belum dapat memberi kebahagiaan pada sesama, usahakan hari ini tidak menyakiti orang lain.
  2. Bila hari ini belum dapat melakukan amal sholeh, usahakan hari ini tidak melakukan dosa.
  3. Bila hari ini belum dapat berakhlak mulia, usahakan hari ini tidak menyimpan hati buruk pada sesama.
  4. Bila hari ini belum dapat menghargai orang lain, usahakan hari ini tidak memberi nilai berlebih pada diri sendiri.
  5. Bila hari ini belum dapat memberi manfaat, usahakan hari ini tidak memberi madhorot bagi sesama.
  6. Bila hari ini belum dapat menciptakan suasana yang menyenangkan bagi orang lain, usahakan hari ini tidak melakukan kemarahan dan kebencian pada sesama.
  7. Bila hari ini belum dapat mengingat kebaikan orang, usahakan hari ini dapat melupakan keburukan orang lain.
  8. Bila hari ini belum dapat beramal dengan ikhlas, usahakan hari ini dapat membebaskan diri dari pujian orang lain.

Makna kehidupan bukan terletak pada seberapa bernilainya diri kita menurut kita, tetapi seberapa besar bermanfaatnya kita untuk banyak orang di sekitar daya jangkau kita. Jika keberadaan kita dapat menjadi berkah bagi banyak orang, insyaallah kita benar- benar bernilai, Aamiin YRA.

Wallahu a’lam bishawab.

Semoga bermanfaat.

Yogyakarta, Rabu, 11 Oktober 2017

Kenal BAKAT sejak DINI lebih FOKUS mewujudkan PRESTASI.

……………………………………………………

Advertisements

AKTUALISASI JIWA KEPEMIMPINAN MENUJU OPTIMALISASI KUALITAS ORGANISASI

Oleh: Teguh Sunaryo

Direktur Lembaga Deteksi Bakat Sidikjari DMI

(Disampaikan di Balikpapan, Ahad, 17 September 2017)

PENGANTAR UMUM

Manusia adalah makhluk individual sekaligus makhluk social. Sebagai makhluk individual ia memiliki cara berpikir dan cara bertindak yang berbeda antar sesama. Ia memiliki kemerdekaan dalam menentukan banyak hal untuk masa depannya termasuk dalam mempertahankan eksistensinya serta mengaktualisasikan gagasan, ide, harapan dan pemikirannya. Namun, ketika ia berada diantara sesama dalam suatu komunitasnya maka ia menjadi terikat oleh orang lain (dari pihak luar selain dirinya) yang juga memiliki keunikan terhadap banyak hal dibandingkan sesamanya.

Inilah pentingnya tema kepemimpinan yang tidak pernah habis untuk dibahas disepanjang zaman yang senantiasa terus berubah dan dinamis. Kepemimpinan dibutuhkan untuk mengelola diri sendiri, mengelola keluarga, rukun tetangga, suatu perusahaan atau lembaga yang dituntut professional serta mengelola Negara yang dapat menyejahterakan rakyatnya dan melindungi warganya dalam berinteraksi antara Negara.

Kepemimpinan adalah ilmu dan jiwa tentang bagaimana seseorang memimpin dirinya sendiri dan orang lain pada suatu tempat yang melahirkan suatu seni, ketrampilan dan keahlian dalam mengelola orang (anggotanya) dan pekerjaannya (aktivitasnya) untuk meraih dan mewujudkan suatu tujuan yang telah ditetapkan dalam visi dan misi suatu organisasi.

Dalam ilmu manajemen, kepemimpin termasuk bagian dari kajian bidang personalia, selain ada bidang lainnya seperti bidang keuangan, bidang produksi dan bidang marketing.

MENGELOLA MANUSIA

Organisasi adalah benda mati. Ia menjadi hidup jika di dalamnya ada makhluk hidup, yakni bernama manusia (Sumber Daya Manusia). Organisasi yang baik merupakan kumpulan orang-orang yang mayoritasnya adalah baik. Organisasi hebat pun merupakan kumpulan dari berbagai kinerja dari orang-orang yang mayoritasnya juga hebat-hebat. Namun, ibarat suatu orchestra dalam panggung music atau permainan sepakbola yang indah ditonton dan berkualitas permainannya, maka organisasi harus dikelola dengan cermat dan baik. Siapa melakukan apa, siapa mendelegasikan kepada siapa dan siapa memutuskan tentang apa, dan siapa dapat melakukan apa. Dalam mengelola sumber daya manusia ada cara klasik yang selalu bisa diaplikasikan dalam mengelola sumber daya manusia disepanjang masa yakni prinsip 5W1H (What, Why, Who, When, Were dan How). Dan ada tiga prioritas suatu organisasi dalam melakukan perbaikan kinerjanya, yakni pembenahan SDM, perbaikan system, dan pengadaan fasilitas yang sesuai dengan tuntutan zaman.

Dalam mengelola SDM yang pertama-tama ditanamkan sebelum mengembangkan ketrampilannya adalah niatnya (sikap mentalnya). Setidak-tidaknya ada tiga niat yang perlu dijadikan prinsip hidup dan prinsip bekerja oleh para professional dimanapun berada, yakni: (1) Bekerja wajib dipersikan sebagai ungkapan rasa bersyukur kepada Tuhannya karena telah terlahir fitri dan telah dan sedang diberi nikmat sehat; (2) Menebarkan manfaat (service excellence) sekaligus meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi diri sendiri maupun bagi organisasi (efisience); saling tolong menolong dalam kebaikan (service excellence dan superteam) bukan saling tolong menolong dalam pelanggaran (3) Bersedia memelihara hubungan silaturahmi (memelihara relasi usaha dan kekompakan tim kerja).

MENGELOLA PEKERJAAN

Ada tiga pilar SDM yang dapat dikembangkan guna mengelola dan mengoptimalisakan pekerjaan (aktivitas) dalam suatu organisasi antara lain Attitude, skill, dan knowledge. Dalam menjalankan tugasnya setiap orang harus memiliki ketrampilan (skill) yang memadai dengan bidang tugas utamanya, harus memiliki sikap mental yang jujur, sportif, tanggungjawab, tekun dan tidak mudah menyerah (attitude) dalam menjalankan peran dan tugasnya, fungsi dan manfaatnya, serta memiliki pengetahuan yang luas (knowledge)  guna mengantisipasi perubahan lingkungan kerja, perubahan persaingan usaha serta perubahan zaman secara keseluruhan.

Dalam manajemen modern, suatu organisasi sudah memiliki job description (job-des) dan job specification (job-spec) untuk masing-masing person, tim dan pejabat yang jelas dan mudah dipahami oleh semua teamwork (semua anggotanya). Dalam menjalankan pekerjaannya setiap orang harus dapat bekerja ikhlas, keras, cerdas, dan tuntas.

EVALUASI TIM KERJA

Tentu pada periode tertentu (1 tahunan, 2 tahunan, 3, tahunan, 4 tahunan atau 5 tahunan) setiap organisasi mengadakan evaluasi dan atau mengadakan pemilihan pengurus baru. Jika dipandang baik maka bisa dilanjutkan dan jika dipandang tidak baik atau gagal maka bisa lakukan pergantian atau yang memilik hak memilih tidak memilih pengurus lama yang terbukti gagal tersebut. Dalam suatu organisasi, mutasi kerja atau peran serta pergantian pengurus adalah hal yang biasa, kecuali organisasi keluarga atau organisasi milik pribadi perseorangan.

Semoga bermanfaat dan selamat beraktifitas.

Yogyakarta, Kamis, 14 September 2017

Teguh Sunaryo

Kenal BAKAT sejak DINI lebih FOKUS mewujudkan PRESTASI

…………………………………………………

Telp/WA: 085-643-383838 dan 0822-4022-5454.

KISAH NYATA: Ma.., Aku ke Surga dulu, terlalu lelah di sini!

#TesBakatSidikjariDMI

Detik Selanjutnya Ia Pun “Terjun Bebas” dari Lantai 21!

Hati ibu Shu-shu ini sepenuhnya hancur sambil memeluk tubuh putrinya yang telah dingin membeku.

Sang ibu menyekolahkan putrinya yang “bodoh” ke universitas bergengsi di seluruh negeri, kemudian memasukkannya ke firma hukum terkenal di Dalian, betapa besar pengorbanan seorang ibu untuk putrinya ini! Namun, baru satu tahun lulus, sang putri membalas jasa ibunya dengan cara seperti ini, menyedihkan!

Anak-anak adalah harapan kedua orang tua. Tak dipungkiri orang tua memang punya banyak harapan dan berharap anaknya menjadi sesosok orang yang sukses suatu hari nanti.

Siapa sangka, kalau ada sedikit saja kesalahan di tengah-tengah ini, maka akan terjadi hal yang menyedihkan seperti kisah nyata berikut ini.

Ibu bernama Liu Yu yang telah menginjak usia 50 tahun ini adalah lulusan full-time undergraduate yang bisa dihitung dengan jari diantara teman-teman seusianya ketika itu.

Setelah lulus, Liu mengabdikan dirinya menjadi pendidik di sekolah. Karena sangat menonjol, ia selalu mendapatkan posisi yang bagus sepanjang kariernya.

Di usianya yang ke 35 tahun, ia telah menjadi wakil kepala Department of Business Administration di Dalian University, Tiongkok, adalah seorang profesor dan staf menengah termuda di universitas tersebut ketika itu.

Sementara suaminya adalah seorang pegawai negri yang punya kedudukan tinggi. Keberhasilan dari pasangan ini membuat banyak orang yang iri hati.

Pada tahun 1984, Liu Yu melahirkan seorang anak perempuan dan diberi nama Shu-shu. Dia berkata kepada suaminya, anak kita harus lebih menonjol dibanding anak keluarga lain.

Namun, kondisi putrinya membuat ibu Liu tercengang : 1 tahun 7 bulan, saat anak lainnya sudah bisa berlari kesana kemari, Shu-shu bahkan belum bisa berjalan dengan lancar.

Selain itu, perkembangan kemampuan berbicara Shu-shu juga lambat, ketika anak lainnya sudah mulai bisa memanggil “tante”, “nenek” dan sebagainya. Shu-shu bahkan masih sulit mengucapkan kata papa dan mama.

Kondisi putrinya ini tentu saja membuat ibu Liu merasa sangat kecewa.

Hal yang membuat ibu Liu semakin kecewa adalah ketika Shu-shu masuk sekolah dasar. Shu-shu selalu mendapatkan nilai nol setiap kali ujian, bahkan untuk soal yang terhitung mudahpun, ia tidak mengerti.

Agar bisa membuat putrinya pintar, ibu Liu kemudian memaksa putrinya minum berbagai suplemen setiap hari. Namun, bukan hanya nilai Shu-shu tidak bertambah baik, Shu-shu justeru tumbuh dewasa lebih cepat, baru SD sudah menstruasi.

Setelah temannya yang menjadi dokter menyarankan, sang ibubaru menghentikan “program menguatkan otak” untuk anaknya.

Tapi hal itu tidak membuat ibu Liu menyerah untuk menciptakan “program unggulan” bagi anaknya. Ia mengatur waktu belajar Shu-shu dengan padat, dan mencari berbagai guru privat yang ahli untuk membimbing Shu-shu.

Hasil bimbingan ternyata tidak mengecewakan, Shu-shu berhasil mendapatkan juara pertama di kelas 5 SD untuk pertama kalinya.

Liu tentu merasa sangat senang dan mulai meminta Shu-shu untuk ikut pertandingan cerdas cermat nasional. Sayangnya sekali lagi Liu dikecewakan oleh hasil anaknya. Ia tidak mengerti dengan pertanyaan yang diajukan, sementara lawannya sudah tahu jawabannya.

Shu-shu belakangan menuliskan dalam buku diarinya, Shu-shu kesal bukan main begitu terbayang dengan hal itu :

“Responku memang lambat, aku selalu jadi yang terakhir dalam setiap kegiatan. Tapi, mama tidak mau mengakui kelemahanku ini, dia selalu merasa dia dan papa adalah orang yang hebat, sehingga mereka berpikir, dengan turunan genetik yang sama, mana mungkin tidak pintar ? Jadi, punya orang tua yang hebat tidak selalu bagus, aku tidak bahagia, mereka juga hidup tersiksa karena diriku”.

Pada musim panas tahun 1997, Shu-shu akhirnya sekolah di SMP. Ibunya menguras habis tabungannya, mencari lagi seorang guru yang hebat untuk les Shu-shu di malam hari.

Shu-shu ditempa untuk menjadi anak yang selalu lebih unggul dari yang lainnya. Ibunya juga puas akan nilai yang dicapai Shu-shu dan berkata, “Kepintaran kamu itu adalah hasil galian yang mama paksakan.”

Pada tahun 2000, Shu-shu masuk SMA ternama, tapi di ujian pertama kali, ia ternyata tidak lulus di banyak mata pelajaran.

Karena masalah tersebut, wali kelas Shu-shu memanggil ibunya untuk bicara, ia curiga Shu-shu sebelumnya sudah mendapat bocoran sehingga bisa diterima di SMA tersebut.

Hal ini membuat ibu marah lalu berkata, “Saya bisa menggugatmu atas fitnahan ini!”

Kemudian Liu membawa hal ini ke kepala sekolah, sehingga wali kelas tersebut akhirnya meminta maaf. Ia juga meminta supaya Shu-shu dipindah ke kelas terbaik di SMA tersebut agar tidak lagi diajar oleh wali kelas tersebut.

Tapi Shu-shu yang memang pada dasarnya tidak bisa mengikuti pelajaran berkata mau keluar sekolah satu minggu kemudian.

Shu-shu yang selalu menurut mamanya berkata pada mamanya : “Saya mau pindah sekolah.”

Ibunya seketika melotot mendengar keinginan putrinya.

Tapi Shu-shu ngotot ingin pindah sekolah .

“Saya sama sekali tidak paham dengan penjelasan guru. Bagi saya, mata pelajaran SMA itu sangat sulit. Saya ingin pindah sekolah kesusteran dan bekerja di rumah jompo,” kata Shu-shu yang hampir membuat mamanya tersedak mendengarnya.

Ibunya marah besar karena hal ini, walaupun suaminya sudah membujuknya untuk menghormati keputusan Shu-shu, tapi reaksi ibu Liu sangat keras dan malah berkata, “Banyak anak yang lebih buruk dari Shu-shu bisa kuliah, atas dasar apa dia tidak bisa? Hei Liang Jun (Suami ibu Lu), kamu dengar baik-baik ya, kecuali besok aku mati, kalo tidak, aku pasti akan memasukkan Shu-shu ke universitas bergengsi!”

Liu mulai turun tangan mengajar anaknya. Tahun 2003, Shu-shu akhirnya masuk fakultas ekonomi sebuah universitas ternama.

Liu menangis begitu menerima lembar penerimaan dari universitas. Sementara Liang Jun, suaminya sangat bersukur atas upaya keras istrinya : “Kalau bukan kamu, Shu-shu pasti tidak ada harapan lagi.”

Di semester pertamanya, Shu-shu adalah mahasiswi satu-satunya yang mata kuliahnya paling banyak gagal. Shu-shu akhirnya harus diam di rumah dan belajar.

Shu-shu menuliskan dalam diarinya, “Mama yang pintar melahirkan anak yang tidak pintar, tapi tidak mau menerima kenyataan. Kasihan. Anak yang tidak pandai memiliki seorang ibu yang pintar, dan anaknya dipaksa harus pintar, menyedihkan”.

Dengan usaha keras akhirnya Shu-shu menamatkan kuliahnya.

Di hari terakhir kuliah dia menyampaikan kesan-pesan kuliahnya, “Lulus, semua orang senang akhirnya terjun ke masyarakat, dan berdikari, tapi yang paling menggembirakanku adalah aku tidak perlu belajar lagi. Lelah rasanya 16 tahun perjalanan di sekolah, dan saking lelahnya sampai-sampai membuatku berulang kali tidak mau hidup lagi.”

Ibunya tidak berhenti sampai disitu, ia berusaha memasukkan anaknya ke sebuah kantor pengacara. Shu-shu memiliki atasan yang sangat ketat.

Di hari pertamanya bekerja, pengacara memberikan Shu-shu pekerjaan yang tidak mampu dilakukannya. Ketika Shu-shu minta tolong pada rekan kerjanya, semua sedang sibuk dan tidak bisa membantunya.

Malamnya Shu-shu dimarahi atasannya. dan Shu-shu hanya bisa menangis. Karena tertekan ia mengatakan pada mamanya tidak mau bekerja lagi. Ibu Liu tentu marah, namun semua itu diterima Shu-shu dengan cara diam.

Semakin lama Shu-shu semakin terpuruk di kantornya dan semakin ingin keluar dari sana.

Karena selalu hidup tertekan sejak kecil hingga lulus kuliah dan terjun ke masyarakat, Shu-shu akhirnya memutuskan mengakhiri hidupnya, ia melompat dari lantai 21 dan tewas seketika.

Beberapa hari kemudian, ibu Liu yang tidak mampu menerima kenyataan itu menemukan sebuah surat dari Shu-shu yang isinya, “Papa, mama, aku selalu berharap bisa menjadi anak seperti yang kalian harapkan. Tapi, bagaimanapun aku bukanlah anak tipe seperti itu. Aku lelah, benar-benar lelah, aku selalu hidup di lingkungan yang bukan milikku, kelebihan orang lain selalu menonjolkan kebodohanku. Aku sangat lelah, dan ingin istirahat, mungkin di surga nanti aku bisa bertemu dengan teman-temanku yang tidak pintar tapi bahagia.”

Huruf demi huruf yang ditorehkan untuk terakhir kalinya oleh Shu-shu putri mereka itu membuat Liu terpukul dan sadar seketika., tapi sudah terlambat.

Ketika diwawancarai, Liu mengatakan sambil menangis : “Saya menceritakan masalah keluarga ini, hanya ingin menyadarkan para orangtua lainnya atas hal yang dialami putri saya. Pepatah Turki mengatakan ‘Tuhan saja menyiapkan pohon yang pendek bagi burung yang bodoh’. Kalimat ini saya kutip dari buku diari Shu-shu, tapi aku selalu memaksa Shu-shu terbang ke pohon tinggi yang memang bukan untuknya, hingga akhirnya dia jatuh”.

Kalau direnungkan, bukankah aku hanya berharap agar anakku bahagia?

*disadur dari berbagai sumber

===================================

 

……………………………………………………..

Yogyakarta, Senin, 21 Agustus 2017.

Kenal BAKAT sejak DINI lebih FOKUS mewujudkan PRESTASI

……………………………………………………..

Model Parenting DMI

#TesBakatSidikjariDMI.

Setiap orang tua (ayah-bunda) punya cara berpikir yang berbeda, kemauan yang berbeda, kemampuan yang berbeda dan keadaan yang berbeda. Karena itulah, setiap saat kita dihadapkan pada pilihan yang tidak sama dan cara pengambilan keputusan yang berbeda pula. Apapun perbedaan yang ada, tidak boleh melupakan niat dan manfaatnya, tidak boleh lupa cara memulainya dan tujuan akhirnya. #TesBakatSidikjariDMI.

Semoga kita bisa menjadi orangtua (ayah-bunda) yang realistis namun tetap bijaksana, yang sabar, tekun tetapi tetap kreatif jika dihadapkan pada keadaan yang tidak terduga. #TesBakatSidikjariDMI.

Pesan Ibu Elly Risman Untuk Ayah-Bunda

Pesan Ibu Elly Risman

Senior Psikolog UI, Konsultan Parenting Nasional

Inilah pesan untuk para Orangtua :

Kalau Anda dititipi anak Presiden, kira-kira bagaimana mengasuh dan menjaganya ?

Beranikah Anda membentaknya sekali saja ?

Pasti enggak, kan ?

Nah, yang sekarang menitip bukan Presiden, tapi yang jauh lebih berkuasa dari Presiden, yaitu Allah.

Beranikah Anda membentak, memarahi, mencubit, menyentil, bahkan memukul ?

Jika Anda pernah melakukannya, kira-kira nanti di hari akhir, apa yang Anda jawab ketika ditanya Pemiliknya ?

Jiwa anakmu lebih mahal dari susu termahal yang ditumpahkannya.

Jaga lisanmu, duhai orangtua.

Jangan pernah engkau memarahi anakmu hanya gara-gara ia menumpahkan susunya atau karena ia melakukan hal yang menurutmu salah.

Anakmu tidak tahu kalau apa yang ia lakukan adalah kesalahan.

Otaknya belum mempunyai konsep itu.

Jaga Jiwa Anakmu.

Lihatlah tatapan mata anakmu yang tidak berdosa itu ketika engkau marah-marah.

Ia diam dan mencoba mencerna apa yang engkau katakan.

Apakah ia mengerti ?

Mungkin iya, tapi cobalah perhatikan apa yang ia lakukan.

setelah engkau pukul dan engkau marahi.

Anakmu tetap memelukmu, masih ingin engkau belai.

Bukankah inilah tanda si anak memaafkanmu ?

Namun, jika engkau terus-menerus mengumbar kata-kata kasarmu kepadanya, otak anakmu akan merekamnya dan akhirnya, cadangan ‘maaf’ di otaknya hilang.

Apa yang akan terjadi selanjutnya, duhai orangtua ?

Anakmu akan tumbuh menjadi anak yang ‘ganas’ dan ia pun akan membencimu sedikit demi sedikit hingga tidak tahan hidup bersamamu.

Jiwa anak yang terluka itu akan mendendam.

Pernahkah engkau saksikan anak-anak yang ‘malas’ *merawat orangtuanya ketika tua ?

Jangan salahkan anak-anaknya.

Cobalah memahami apa yang sudah dilakukan oleh orangtua itu kepada anak-anaknya ketika mereka masih kecil.

Orangtua.., anakmu itu bukan kaset yang bisa kau rekam untuk kata-kata kasarmu.

Bersabarlah.

Jagalah kata-katamu agar anak hanya tahu bahwa ayah ibunya adalah contoh yang baik, yang bisa menahan amarahnya.

Duhai orangtua, engkau pasti kesal kalau anakmu nakal.

Tapi pernahkan engkau berpikir bahwa kenakalannya mungkin adalah efek rusaknya jiwa anakmu karena kesalahanmu…

Kau pukul & kau cubit anakmu hanya karena melakukan hal-hal sepele.

Kau hina dina anakmu hanya karena ia tidak mau melakukan hal-hal yang engkau perintahkan.

Cobalah duduk dan merenungi apa saja yang telah engkau lakukan kepada anakmu.

Apakah engkau lebih sayang pada susu paling mahal yang tertumpah?

Anakmu pasti menyadari dan tahu ketika kemarahan itu selalu hadir di depan matanya.

Jiwanya pun menjadi memerah bagai bara api.

Apa yang mungkin terjadi ketika jiwa anak sudah terusik ?

Anak tidak hormat pada orangtua.

Anak menjadi musuh orangtua.

Anak menjadi sumber kekesalan orangtua.

Anak tidak bermimpi hidup bersama dengan orangtua.

Hal-hal inikah yang engkau inginkan, duhai orangtua ?

Ingatlah, jiwa anakmu lebih mahal dari apa pun termahal yang ada di dunia

Jaga lisan dan perlakukanmu kepada anakmu.

……………………………………………………………………………..

Kenal BAKAT sejak DINI lebih FOKUS mewujudkan PRESTASI

……………………………………………………………………………..

Yuk Bunda, Hargai dan Kenali Si Buah Hati dengan “5 RUDI”

Banyak ayah-bunda yang meninginkan kesuksesannya diwariskan kepada putra-putrinya. Keinginan tersebut tidak sepenuhnya salah. Bahwa setiap orangtua menghendaki anaknya sukses itu benar, namun tidak semua kesuksesan berada pada bidang keahlian yang sama. Setiap orang adalah unik, maka biarlah ia menjadi diri mereka sendiri, dan biarlah mereka memilih tempat yang sesuai dengan bakat dan minatnya.

Berikut ini ada artikel yang dapat menjelaskan hal tersebut (Mohon di KLIK di bawah ini):

https://www.haibunda.com/psikologi/d-3571895/yuk-bun-hargai-kemampuan-si-kecil-dengan-melihat-5-rudi

Semoga bermanfaat, salam hangat untuk ayah-bunda Indonesia.

Yogyakarta, Selasa, 25 Juli 2017

Kenal BAKAT sejak DINI lebih FOKUS mewujudkan PRESTASI

Info Tes Bakat Sidikjari DMI:

Telp/WA: 085-643-383838 ; 0822-4022-5454

Teguh Sunaryo DMI.

SURAT GURU UNTUK PARA ORANGTUA SISWA

Moment pasca ujian sekolah

Dengan hormat,

Bersyukur melalui surat ini kami menjumpai Bpk/Ibu/ Sdr. Orang tua/ Wali terbaik yang terus mendukung putra/ putri meraih prestasi, bersinergi bersama kami.

Bersama surat ini kami sampaikan bahwa, Ujian anak Anda telah selesai. Saya tahu Anda cemas dan berharap anak Anda berhasil dalam ujiannya.

Tapi, mohon diingat, di tengah-tengah para pelajar yang menjalani ujian itu, ada calon seniman, yang tidak perlu mengerti Matematika.

Ada calon pengusaha, yang tidak butuh pelajaran Sejarah atau Sastra. Ada calon musisi, yang nilai Kimia-nya tidak berarti. Ada calon olahragawan, yang lebih mementingkan fisik daripada fisika… di sekolah. Ada calon photografer yang lebih berkarakter dengan sudut pandang art berbeda yang tentunya ilmunya bukan dari sekolah ini.

Sekiranya anak Anda lulus jadi yang teratas, hebat! Tapi bila tidak, mohon jangan rampas rasa percaya diri dan harga diri mereka. Katakan saja: “Tidak apa-apa, itu hanya sekedar ujian.”

Anak-anak itu diciptakan untuk sesuatu yang lebih besar lagi dalam hidup ini. Katakan pada mereka, tidak penting berapapun nilai ujian mereka, Anda mencintai mereka dan tak akan menghakimi mereka.

Lakukanlah ini, dan disaat itu, lihatlah anak Anda menaklukkan dunia. Sebuah ujian atau nilai rendah tak akan mencabut impian dan bakat mereka. Dan mohon, berhentilah berpikir bahwa hanya dokter dan insinyur yang bahagia di dunia ini.

Semoga surat ini bermanfaat dan dapat menyadarkan kita tentang sudut pandang terhadap anak-anak kita.

Semoga anak-anak Anda sukses besar pada bidang keahliannya, amin.

Mohon maaf apabila kurang berkenan.

Salam hormat dari kami “Guru peduli anak dan bakat terpendamnya”