Archive | February 2017

Tanya Jawab Tentang BAKAT

Tanya: Apakah bakat itu ada?

Jawab: Ya, bakat itu ada.

Tanya: Bagaimana cara mengenalinya?

Jawab: Ada tiga cara untuk mengenali bakat, yakni dengan: (1) METODA EKSPLORASI, dengan cara coba-coba, learning by doing, experiences, mengeksplorasi pengalaman. (2) METODA OBSERVASI, dengan diteliti dan dicermati, dan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tertentu (angket psikologi, wawancara psikologi, psikotest). (3) METODA DETEKSI Fingerprint Test DMI, yakni dengan memindai kesepuluh sidikjari tangan kanan dan tangan kiri. Silahkan bebas mau pilih yang mana.

Tanya: Ada yang berpendapat bahwa bakat itu tidak ada?

Jawab: Hidup itu pilihan, setiap orang bebas dan merdeka untuk menentukan setiap pilihan hidupnya, hanya saja yang tidak boleh bebas memilih adalah “konsekuensi atas pilihan”-nya tersebut. Terhadap seseorang yang berpendapat bahwa “bakat itu tidak ada”, maka tidak perlu risau jika dirinya serta anak keturunannya kelak tidak punya bakat, atau ternyata punya bakat tetapi tidak berkembang, sebab ia tidak percaya bahwa bakat itu ada sehingga tidak merasa perlu untuk mengembangkannya.

Tanya: Ada yang berpendapat bahwa bakat itu tidak penting?

Jawab: Jangankan perihal tentang bakat; yang tidak percaya pada Tuhan saja masih ada (Atheis), yang tidak percaya pada “Gereja” juga masih ada, yang tidak percaya pada “Masjid” juga masih ada. Sehingga mereka berpendapat dan beranggapan bahwa keberadaan Tuhan, Gereja atau Masjid menjadi tidak penting, apalagi bakat. Sementara ada seseorang juga beranggapan dan berpendapat bahwa menghisap rokok itu penting, mabuk itu gagah, ke DUGEM itu menyenangkan. Itu semua bisa terjadi karena persepsi, keilmuan, kecerdasan, budaya, lingkungan dan prioritas hidup setiap orang itu berbeda-beda. Nah sekarang dipersilahkan bagi anda, bakat itu penting atau tidak penting? Bagi saya, mengenal bakat itu sangat mendasar dan sangat penting karena bisa menentukan sejak sekarang (agar lebih fokus dan lebih efektif) guna merancang masa depan anak-anak kita; kelak ia harus sekolah di jurusan IPA atau IPS; SMA atau SMK; Mata Pelajaran yang mana yang perlu diprioritaskan; ke Fakultas apa kelak ketika harus kuliah; bekerja dibidang apa, membuka usaha (bisnis) pada sektor apa, dan seterusnya. Singkat kata sukses harus direncanakan, “Succes by Design”.

Tanya: Apakah jika seseorang sudah merencanakan hidupnya maka pasti berhasil?

Jawab: Tergantung pada “Kualitas perencanaannya?”, keyakinannya, kedisplinannya, komitmennya, konsistensinya, dukungan keluarga dan dukungan lingkungannya serta daya juangnya.

Tanya: Apakah ada jaminan sukses?

Jawab: Jika sukses ada jaminannya, maka semua orang akan mudah meraih sukses tanpa perlu sekolah yang baik-baik, tidak perlu berpikir yang cerdas, tidak perlu bekerja yang keras dan tuntas, serta tidak perlu berdoa yang ikhlas. Ingatlah bahwa Sukses itu akibat dari suatu aktivitas yang kita lakukan, maka sukses wajib diikhtiarkan, wajib diperjuangkan, dan wajib diusahakan. “Sukses merupakan hasil kombinasi optimal antara bakat, minat dan cara hidup yang sehat. Dan puncak suskes adalah menjadi yang terbaik pada bidang keahliannya. (Teguh Sunaryo)”.

Tanya: Jika ingin menyekolahkan anak atau ikut kursus dimana ya?

Jawab: Pilihlah SEKOLAH atau LEMBAGA KURSUS yang terbukti peduli (care) pada pengembangan bakat dan minat untuk para siswanya.

Persembahan Manajemen DMI Indonesia

Yogyakarta, Rabu, 1 Maret 2017

Teguh Sunaryo DMI.

Kenal BAKAT sejak DINI lebih FOKUS mewujudkan PRESTASI.

LINK: http://www.dmiindonesia.com

TIDAK MENYIA-NYIAKAN BAKAT ANAK

TIDAK MENYIA-NYIAKAN BAKAT ANAK – Di dalam Kitab Tuhfatul Maudud (hal 147-148), Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

ومما ينبغي أن يعتمد حال الصبي، وما هو مستعد له من الأعمال، ومهيأ له منها، فيعلم أنه مخلوق له، فلا يحمله على غيره ما كان مأذونا فيه شرعا.

“Perkara yang sudah sepatutnya diperhatikan oleh orang tua adalah keadaan si anak, potensi apa yang dia miliki, bakat apa yang terpendam pada dirinya. Maka orang tua hendaknya mengetahui bahwa untuk bidang itulah anaknya diciptakan. Maka orang tua hendaknya tidak memalingkan si anak dari bakatnya selama itu diperbolehkan oleh syari’at.”

Apa akibatnya bila dia dipaksa untuk fokus pada sesuatu yang bukan bakatnya?

Beliau rahimahullah melanjutkan,

فإنه إن حمله على غير ما هو مستعد له- لم يفلح فيه، وفاته ما هو مهيأ له،

“Apabila anak dipaksa untuk menyukai suatu bidang yang bukan bakatnya, maka dia tidak akan meraih kesuksesan di bidang itu. Luputlah darinya apa yang sebenarnya merupakan potensi dirinya. “

Lantas apa yang harusnya menjadi tugas orang tua?

Kata beliau rahimahullah,

فإذا رآه حسن الفهم، صحيح الإدراك، جيد الحفظ، واعياً- فهذه علامات قبوله، وتهيئه للعلم؛ لينقشه في لوح قلبه ما دام خالياً، وإن رآه ميالاً للتجارة والبيع والشراء أو لأي صنعة مباحة- فليمكنه منها؛ فكل ميسر لما خلق له.

“Apabila orang tua melihat bahwa anaknya bagus pemahamannya, bisa mengerti dengan baik, hafalannya pun bagus, dan cerdas, maka ini menunjukkan tanda penerimaan dan kesiapan dia untuk belajar, untuk mengukir ilmu di dalam hatinya yang masih polos.

Namun apabila dia melihat anaknya memiliki kecenderungan kepada dunia perdagangan, jual-beli, atau pada bidang lain yang diperbolehkan oleh syariat (seperti pertanian, kedokteran, teknologi dll –pent) maka hendaknya dia beri kesempatan kepada anaknya untuk mengembangkan potensi itu. Setiap orang akan dimudahkan oleh Allah untuk melakukan apa yang telah ditetapkan baginya.”

Selesai nukilan dari Ibnul Qayyim rahimahullah.

Jadi jangan paksa anak Anda untuk menyukai sesuatu yang bukan bakatnya. Hanya karena bidang tersebut Anda sukai, atau karena bidang tersebut “bergengsi” di mata kebanyakan orang. Ini justru akan mematikan potensi anak.

Tugas orang tua adalah mengenal anaknya, mengenal potensi apa yang dimiliki oleh anak, lalu memfasilitasi anak agar dia benar-benar menguasi bidang yang dia sukai itu. Selama bidang tersebut tidak bertentangan dengan syariat Islam serta memberikan manfaat bagi dirinya dan orang lain, maka hendaknya orang tua selalu memberikan dukungannya kepada si anak.

Wallahu a’lam bishawab.

Sumber: https://www.facebook.com/wira.bachrun/posts/467755376758106

.

Yogyakarta, Rabu, 1 Maret 2017

Teguh Sunaryo DMI.

Kenal BAKAT sejak DINI lebih FOKUS mewujudkan PRESTASI.

LINK: http://www.dmiindonesia.com

 

Bunda, Sudah Tahukah Bakat Putra-Putri Anda?

Oleh: Teguh Sunaryo DMI

Direktur Lembaga Deteksi Bakat Sidikjari DMI Indonesia

Setiap sukses harus direncanakan dan diperjuangkan. Masa depan anak kita tentu harus disiapkan sejak dini saat anak-anak masih duduk dibangku sekolah. Karier yang akan dibangun untuk masa depannya haruslah selaras dengan bidang study yang dia tempuh pada saat ini. Jika tidak, maka akan terjadi kerugian waktu, tenaga dan biaya. Tidak jarang kita temui anak sukses di sekolah tetapi gagal di karier. Itu semua bisa dihindari jika setiap orangtua sejak awal sudah mengetahui bakat putra-putrinya.

Sekolah sebagai upaya pengembangan diri merupakan serangkaian manajemen “psikologi pendidikan” guna memberikan aktivasi atau stimulasi terhadap potensi yang dimiliki para peserta didik. Semakin dekat stimulasi terhadap bakat alaminya maka akan semakin mudah pengembangan prestasinya.

Tes Bakat Sidikjari DMI, merupakan media atau instrumen utama yang bisa digunakan secara praktis dan akurat untuk mengetahui bakat putra-putri kita. Kenal bakat sejak dini lebih mudah meraih prestasi. Ciptakanlah visi putra-putri kita berbasis potensi, upayakan kesepakatan membangun cita-cita anak kita berdasarkan talentanya, dan selaraskan minat dengan bakatnya. Dengan diketahui bakat unggulnya sejak dini, maka anak-anak tidak tertekan selama menempuh dan menyelesaikan studynya, dan riang menyongsong karier gemilangnya.

Persembahan Manajemen DMI Indonesia

Yogyakarta, 21 Februari 2017

Kenal BAKAT sejak DINI lebih FOKUS mewujudkan PRESTASI.

LINK: http://www.dmiindonesia.com